JAKARTA, TELISIK.ID - Cadangan nikel Indonesia, terutama bijih saprolit, diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan produksi kurang dari 10 tahun. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah di tengah pesatnya pertumbuhan industri pengolahan dan pemurnian nikel atau smelter.
Pertumbuhan kapasitas smelter dinilai belum diimbangi dengan peningkatan kegiatan eksplorasi yang memadai. Akibatnya, kebutuhan bahan baku industri terus meningkat, sementara penambahan sumber daya dan cadangan nikel belum berjalan sebanding.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral (PPM) Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Cecep Mochammad Yasin, mengatakan perkembangan hilirisasi nikel perlu diselaraskan dengan kemampuan penyediaan bahan baku secara berkelanjutan.
Menurutnya, bertambahnya jumlah smelter secara langsung meningkatkan kebutuhan pasokan bijih nikel. Namun, intensifikasi eksplorasi belum mampu mengikuti laju peningkatan kebutuhan tersebut.
“Dengan jumlah smelter yang ada, pasokan yang dibutuhkan, sedangkan intensifikasi eksplorasi itu belum menyamai dengan kebutuhan daripada pasokan itu,” ujar Cecep saat menjadi penanggap dalam sesi Optimalisasi Mineral Kritis dan Strategis serta Secondary Mineral untuk Memperkuat Industrialisasi dan Ketahanan Cadangan Nasional di Minerba Convex 2026, Jakarta, seperti dikutip dari Media Nikel Indonesia, Kamis (5/11/2026).
