KENDARI, TELISIK.ID - Kantola, tradisi berbalas pantun masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara, yang dahulu meramaikan pesta adat dan hiburan selepas panen, kini menghadapi ancaman kehilangan generasi penerus.

Kantola merupakan tradisi lisan berupa permainan berbalas pantun atau kabhanti antara kelompok laki-laki dan perempuan. Pertunjukan ini dilantunkan mengikuti irama lagu ruuruunte dengan syair yang disampaikan secara bergantian.

Pada awalnya, kantola dimainkan pada malam hari saat musim kemarau, setelah masyarakat menyelesaikan panen ubi kayu dan ubi jalar. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi hiburan yang hadir dalam berbagai kegiatan adat dan perayaan masyarakat Muna.

Dalam pertunjukannya, kelompok laki-laki dan perempuan berdiri saling berhadapan. Mereka menyampaikan syair secara spontan sesuai dengan situasi dan suasana permainan. Para pemain merespons syair lawan dengan rangkaian kata yang disesuaikan dengan tema percakapan.

Isi syair kantola mencakup berbagai tema, mulai dari nasihat, pendidikan, agama, pemerintahan, hingga ungkapan perasaan. Pujian dan sindiran juga menjadi bagian dari tradisi ini, tetapi disampaikan dengan bahasa yang santun sesuai dengan nilai kesopanan masyarakat setempat.