KENDARI, TELISIK.ID - Tradisi Modero di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, menghadapi tantangan regenerasi ketika minat anak muda terhadap tarian, syair kabhanti, dan bahasa daerah mulai berkurang saat ini.

Modero merupakan salah satu tradisi masyarakat Muna yang diwariskan secara turun-temurun. Kesenian ini tidak hanya menjadi bagian dari hiburan dalam berbagai kegiatan adat, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan dan persaudaraan.

Tradisi tersebut masih dijumpai dalam sejumlah kegiatan masyarakat, seperti pernikahan, katoba atau prosesi pengislaman anak, acara syukuran, hingga perayaan hari besar nasional. Salah satu wilayah yang masih mengenal Modero adalah Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna.

Dalam pelaksanaannya, peserta membentuk lingkaran sambil berpegangan tangan dan mengikuti irama gerakan kaki. Laki-laki dan perempuan umumnya berada dalam barisan terpisah. Suasana semakin hidup dengan lantunan syair berbahasa Muna yang dikenal sebagai kabhanti.

La Ode Halidi (54), warga yang memahami tradisi tersebut, mengatakan Modero memiliki makna lebih luas daripada sekadar tarian dalam sebuah acara. Syair yang dilantunkan juga menjadi sarana menyampaikan nasihat dan pesan moral.