BAUBAU, TELISIK.ID - Rangkaian ritual adat tradisional Pulau Makassar, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang digelar dari darat hingga laut kembali dihidupkan sebagai upaya menjaga marwah negeri dan warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Prosesi sakral yang dimulai dari ritual Poagona Lipu hingga pelarungan sesaji ini murni lahir dari kesadaran kolektif masyarakat tanpa mengesampingkan pentingnya sinergi bersama pemerintah.

Ketua Lembaga Adat Liwuto Makasu, Armudin mengatakan pelaksanaan ritual adat ini terbagi dalam beberapa prosesi utama yang saling berkesinambungan. Prosesi awal yakni Poagona Lipu yang dilaksanakan di darat dan berujung pada pengambilan serta penggunaan air berkah yang telah direstui.

Berlanjut pada prosesi Tuturangiana Andala, dilakukan setelah ritual darat dengan menggunakan bahasa adat setempat, dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat yang dipimpin oleh pemangku adat (Imam) Pulau Makassar agar kegiatan mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa.

Prosesi tersebut berakhir ditandai dengan Pelarungan Sesaji pada empat titik yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Empat titik yang dimaksud, meliputi, Samparaja di sisi Selatan, Kaju Malanga pada sisi Barat, Kolema dibagian Timur dan Rape/latonda kau sebelah Utara.